MANOKWARI, cahayapapua.id—Kepala Unit Pelaksana Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani Havandi Gusli mengatakan, pekerjaan runway (landasan pacu) ditarget rampung akhir tahun 2023.
“Mengubah tipe (menjadi) kelas I, sekarang ini kelas II. Untuk pekerjaan perpanjangan run way target tahun ini selesai. Targetnya 2.500 meter,” ujar Gusli.
Proyek perpanjangan runway bandara Rendani ini, mulai dengan pengerjaan box culvert atau gorong-gorong sejak 2020.
Kemudian, dilanjutkan dengan pekerjaan penimbunan strip atau bahu runway dan runway end safety area (RESA). Selain itu, juga dilakukan pembangunan konstruksi runway di tahun 2022 dan 2023.
Menurut Gusli, bandara Rendani ini mesti menjadi kebanggaan masyarakat Papua Barat. Dapat didarati pesawat airbus, sehingga perlu dikembangkan untuk menunjang keselamatan penerbangan.
“Ini (pengembangan) yang perlu dipahami bahwa manfaat bagi pemerintah pusat bisa dibilang tidak ada. Pemerintah pusat hanya memberikan yang terbaik untuk suatu wilayah untuk bagaimana penerbangannya banyak, kalau dari segi manfaat pemerintah daerah lebih dominan,” ujarnya.
Gulsi menegaskan, besarnya bandara Rendani ini bukan menjadi wujud keberhasilan pemerintah pusat. Namun, manfaatnya untuk pemerintah daerah.
“Di situlah terjadi hubungan timbal balik dengan status otonomi daerah ini. Pemerintah pusat yang membangun, pemerintah daerah yang membebaskan lahan, kalau lahannya sudah tersedia baru kita bangun,” ungkap Gusli.
Meski tidak secara langsung, sebut Gulsi, tentu masyarakat sekitarnya terkena manfaat.
“Ada dampak perekonomian, dampak pariwisata, dampak perdagangan. Itu bisa berawal dari transportasi darat, udara maupun laut,” tuturnya.
Gusli mengajak masyarakat Manokwari, perlu memahami azas manfaat dari pembangunan bandara Rendani.
“Kemungkinan besar pesawat berbadan besar dengan muatan full bisa masuk. 70 ton bisa masuk, aman. Tahun ini pekerjaan harus selesai, kami perlu dukungan masyarakat,” pungkasnya. (BMB-CP)











