MANOKWARI, cahayapapua.id- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat inflasi secara bulanan (m-to-m) pada Maret 2026 sebesar 0,05 persen, setelah sebelumnya mengalami deflasi pada Februari 2026.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, mengatakan meskipun kembali mengalami inflasi, tingkat tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,05 persen secara bulanan, berbalik dibandingkan Februari yang mengalami deflasi,” ujar Merry dalam press rilis di Manokwari, Rabu (1/4/2026).
Secara tahunan (y-on-y), inflasi Papua Barat tercatat sebesar 3,51 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, namun tetap menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan tahun lalu.
Merry menjelaskan, inflasi bulanan terutama didorong oleh kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami inflasi sebesar 1,85 persen dengan andil 0,08 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas seperti celana panjang jeans pria, baju muslim wanita, serta ongkos jahit.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen dengan tingkat inflasi 0,97 persen. Kelompok kesehatan, perumahan, serta informasi dan komunikasi turut menyumbang inflasi meskipun relatif kecil.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran mengalami deflasi, di antaranya makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,29 persen dengan andil -0,10 persen, serta kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,30 persen dengan andil -0,04 persen.
“Deflasi ini dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas,” jelas Merry.
Secara komoditas, inflasi bulanan terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai rawit sebesar 0,11 persen, bensin sebesar 0,10 persen, serta ikan layang/momar dan ikan kakap merah.
Selanjutnya, komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain ikan cakalang sebesar -0,16 persen, angkutan udara sebesar -0,12 persen, serta tomat dan ikan tuna.
Berdasarkan wilayah, seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Papua Barat pada Maret 2026 mengalami inflasi, termasuk Kabupaten Manokwari yang mencatat inflasi bulanan sebesar 0,05 persen.
Untuk inflasi tahunan, penyumbang terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan tingkat inflasi sebesar 5,47 persen dan andil 1,92 persen. Komoditas utama yang mendorong inflasi pada kelompok ini antara lain beras, cabai rawit, dan tomat.
Sementara itu, Provinsi Papua Barat Daya juga terjadi inflasi pada Maret 2026, baik secara bulanan sebesar 1,04 persen maupun tahunan sebesar 4,09 persen.
Secara tahunan, inflasi di Papua Barat Daya terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan tingkat inflasi sebesar 6,95 persen dan andil 2,78 persen, dengan komoditas utama seperti cabai rawit, ikan tuna, dan ikan kembung.
Jika dilihat menurut kabupaten/kota, inflasi tahunan tertinggi di Papua Barat Daya terjadi di Kota Sorong sebesar 4,63 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Sorong Selatan sebesar 1,74 persen.
Merry menegaskan, secara umum inflasi pada Maret 2026 di Papua Barat dan Papua Barat Daya masih dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas pangan serta beberapa komoditas energi.
“Inflasi masih dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta komoditas energi seperti tarif listrik dan bahan bakar,” pungkasnya.
PSR-CP










