KSSK Pastikan Sistem Keuangan Nasional Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global

banner 468x60

JAKARTA, cahayapapua.id- Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan kondisi sistem keuangan nasional tetap resilien dan terjaga hingga akhir tahun 2025, meskipun ketidakpastian global meningkat akibat tensi geopolitik dan perang dagang internasional.

Hal tersebut disampaikan KSSK usai rapat berkala KSSK I Tahun 2026 yang digelar pada Jumat, 23 Januari 2026. KSSK menilai stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional tetap solid berkat koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas, yakni Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Namun demikian, KSSK menegaskan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika global yang berpotensi memengaruhi perekonomian domestik.

Tekanan Global Masih Tinggi

KSSK mencatat perekonomian global masih dihadapkan pada ketidakpastian yang meningkat, terutama dipicu ketegangan perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, serta eskalasi geopolitik di sejumlah kawasan.

Pada triwulan IV 2025, perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan pelemahan pasar tenaga kerja mendorong The Fed memangkas Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin ke kisaran 3,50-3,75 persen. Kebijakan tersebut diharapkan menopang pemulihan ekonomi dan meningkatkan aliran modal ke negara berkembang.

Meski prospek ekonomi AS membaik pada 2026 berkat investasi teknologi, termasuk artificial intelligence (AI) serta stimulus fiskal, pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor.

IMF dalam World Economic Outlook (WEO) Januari 2026 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada 2025 dan 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi Oktober 2025.

Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Di engah kondisi global tersebut, KSSK menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang solid. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diprakirakan meningkat, didorong permintaan domestik, stimulus fiskal dan moneter, serta membaiknya keyakinan pelaku usaha.

Indikator ekonomi menunjukkan sinyal positif, antara lain PMI manufaktur yang berada di zona ekspansi, penjualan ritel yang tumbuh, serta neraca perdagangan yang tetap surplus. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 5,2 persen dan meningkat menjadi 5,4 persen pada 2026.

Ke depan, penguatan investasi akan didorong melalui peran BPI Danantara sebagai pengungkit investasi swasta, termasuk di sektor hilirisasi sumber daya alam, serta pembentukan Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP).

Stabilitas Eksternal dan Rupiah Terjaga

Ketahanan eksternal Indonesia tetap kuat dengan cadangan devisa akhir Desember 2025 mencapai USD156,5 miliar, setara 6,3 bulan impor. Nilai tukar Rupiah sempat mengalami tekanan akibat arus keluar modal asing dan meningkatnya permintaan valuta asing, namun Bank Indonesia menegaskan komitmen menjaga stabilitas Rupiah melalui intervensi terukur di pasar NDF, DNDF, dan spot.

BI memprakirakan nilai tukar Rupiah akan stabil dengan kecenderungan menguat, didukung inflasi rendah, imbal hasil yang menarik, serta prospek ekonomi nasional yang tetap baik.

Inflasi Terkendali

Sepanjang 2025, inflasi tetap terjaga dalam sasaran 2,5±1 persen. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Desember 2025 tercatat sebesar 2,92 persen (yoy), dengan inflasi inti rendah sebesar 2,38 persen.

KSSK memperkirakan inflasi pada 2026 dan 2027 tetap terkendali, seiring sinergi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) serta penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional.

APBN Jadi Peredam Guncangan

Di tengah moderasi harga komoditas dan tekanan global, APBN 2025 menjalankan peran strategis sebagai shock absorber. Hingga akhir 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu APBN, sementara pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun.

Defisit APBN tercatat sebesar 2,92 persen dari PDB dan masih dalam batas aman. Belanja negara diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung dunia usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan paket stimulus ekonomi.

Sektor Keuangan Tetap Solid

Stabilitas sektor jasa keuangan nasional dinilai tetap terjaga. Kredit perbankan tumbuh 9,6 persen (yoy) pada Desember 2025 dengan kualitas kredit yang tetap sehat. Permodalan perbankan juga kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,87 persen.

Pasar saham domestik mencatat kinerja positif sepanjang 2025, dengan IHSG ditutup menguat 22,13 persen secara tahunan. Industri asuransi, dana pensiun, hingga lembaga pembiayaan juga menunjukkan ketahanan yang baik.

Komitmen Perkuat Koordinasi

KSSK menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dan sinergi kebijakan untuk mengantisipasi potensi risiko dari dinamika ekonomi, pasar keuangan, dan geopolitik global.

“Pemerintah, BI, OJK, dan LPS berkomitmen menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung sektor riil dan program Asta Cita Pemerintah guna mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” tegas KSSK.

KSSK dijadwalkan kembali menggelar rapat berkala pada April 2026.

 

PSR-CP

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *