MANOKWARI, cahayapapua.id– Bupati Manokwari Hermus Indou menyampaikan, Manokwari memiliki prospek menjanjikan untuk menjadi penyangga pangan Papua Barat. Hanya saja, masih ada ribuan hektar lahan pertanian yang belum dioptimalisasi.
“Kita punya 10.250 hektar potensi lahan. Yang sudah dikelola sekitar 1.227 hektar. Jadi masih ada 8.000 hektar lebih yang belum dioptimalkan,” terang Hermus saat mendampingi Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi panen padi di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Sabtu (2/11/2023).
Menurut Hermus, ini semua menjadi hambatan dalam pengembangan pertanian. Selain itu, Manokwari juga butuh jaringan irigasi dan ketersediaan pupuk yang cukup.
Hermus menjelaskan, jika potensi lahan 8.000 hektar bisa dioptimalisasi, maka produksi beras Kabupaten Manokwari akan mencukupi kebutuhan pangan di tanah Papua. Yang dibutuhkan saat ini adalah dukungan dari pemerintah pusat.
“Dengan kolaborasi dan pendekatan program yang berbasis kebutuhan, sektor pertanian bisa kita bangkitkan. Nah dengan kehadiran wamentan kita harapkan menjadi solusi,” jelas Hermus.
Hermus juga menyampaikan beberapa kendala pertanian yang dihadapi saat ini. Pertama, bahwa kondisi ketahanan pangan daerah dantara kebutuhan dan ketersediaan bahan pangan relatif stabil sampai hari ini.
“Terima kasih Bapak sudah berkunjung ke pasar untuk melihat dan memang ketersediaan pangan kita khusus Manokwari cukup. Dan kita menjadi daerah penghasil yang bisa memberikan suplai Sorong Raya. Termasuk Kabupaten Biak juga beberapa kabupaten lainnya. Mudah-mudahan stabilitas ketahanan pangan kita di Manokwari akan tetap kita tingkatkan,“ ujarnya.
Ia mengemukakan, kebutuhan beras untuk kabupaten setiap minggu mencapai 1.560 ton. Dengan asumsi ketersediaan beras sekitar 2.723 ton. Baik pasokan dari petani Bulog maupun distributor.
“Begitu pun dengan komoditas pangan lainnya selama bulan Januari sampai dengan November Kabupaten Manokwari relatif stabil,“ tutur Hermus.
Demi menjaga tidak adanya gejolak pangan, lanjut Hermus, pemerintah daerah juga melakukan berbagai upaya. Di antaranya dengan gerakan pangan murah.
Gerakan pangan murah diselenggarakan sebanyak 11 kali di Pemkab Manokwari dan 9 kali oleh Pemprov Papua Barat. Kemudian kata Hermus, pihaknya juga telah mengeluarkan instruksi tentang gerakan menanam tanaman pangan dan hortikultura lainnya sebagai pendamping beras.
“Jadi kita juga instruksikan kepada setiap kampung untuk punya kebun di kampung yang kita harapkan masyarakat kita tidak hanya konsumsi beras. Tapi juga pangan lokal. Ini sejalan dengan instruksi gubernur,” terang Hermus.
Kendala kedua kata Hermus yakni kurangnya pembangunan jaringan irigasi secara permanen. Kondisi ini memberikan dampak kepada pengembangan pertanian. Terutama pada lahan persawahan.
Ketiga, kurangnya ketersediaan pupuk. Lalu, penyediaan bibit ternak sapi unggul inseminasi buatan juga masih kurang dan juga dibutuhkan pakan ternak untuk mengelola khusus untuk pakan ternak.
“Perlu kami laporkan kepada Bapak Wamentan, kami juga sudah punya studi kelayakan untuk industri pakan ternak di distrik yang asli tapi sampai dengan hari ini belum terealisasi. Mudah-mudahan kalau nanti ada Pabrik pupuk di Manokwari maka Kabupaten Manokwari ini juga akan memberikan kemudahan bagi para petani kita bahkan juga peternak kita untuk pengembangan, sehingga ketahanan pangan kita bisa dapat dilaksanakan,“ katanya.
Di sisi lain Hermus memuji kehadiran Wamentan di Papua Barat. Setidaknya memberikan spirit kepada petani di dataran Wapremasi untuk berjuang membangun daerah.
“Kita ingin buktikan bahwa Indonesia tidak hanya bagus di Jawa dan Sumatera, tetapi Indonesia akan bagus di seluruh tanah air. Dan ketika orang akan datang ke tanah Papua, mereka melihat wajah Indonesia di sini. Karena itu kita perjuangkan hal-hal yang baik dan positif. Kita juga sedang berjuang membangun citra pemerintah kita di sini. Membangun citra masyarakat Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,“ imbuh Hermus.
PSR-CP
















