MANOKWARI, cahayapapua.id- Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Manokwari kembali melakukan intensifikasi pengawasan pangan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.
Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun ini dilaksanakan dalam lima tahap, dimulai sejak akhir November dan berakhir pada pekan terakhir Desember.
Kepala BPOM Manokwari, Agustince Werimon, menjelaskan bahwa pengawasan tahun ini tidak hanya dilakukan di Manokwari, tetapi juga mencakup kabupaten lainnya karena wilayah kerja BPOM Manokwari meliputi seluruh Provinsi Papua Barat.
“Minggu ini kami masuk pada tahapan keempat dan nanti masih ada tahapan kelima. Karena wilayah pengawasan kami se-Provinsi Papua Barat, pengawasan tahun ini selain di Manokwari juga dilakukan di Fakfak, Kaimana, dan Manokwari Selatan,” ujar Werimon saat melakukan pengawasan di salah satu toko di Manokwari, Senin (22/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa pengawasan difokuskan pada pangan olahan, terutama produk yang berpotensi meningkat penggunaannya menjelang hari raya. Produk pangan rusak, kedaluwarsa, pangan tanpa izin edar, hingga bahan pangan dalam parsel menjadi prioritas pemeriksaan.
“Menjelang hari raya, masyarakat membutuhkan banyak produk pangan olahan. Jadi kami fokus pada produk yang rusak, kedaluwarsa, termasuk yang tidak memiliki izin edar. Produk pangan dalam bingkisan seperti parsel juga kami awasi,” jelasnya.
Selain pengawasan, BPOM juga memberikan pembinaan kepada pelaku usaha dan penyedia parsel agar lebih selektif memilih produk. Werimon menekankan agar tidak ada produk mendekati masa kedaluwarsa yang diberikan kepada masyarakat.
“Kami berharap produk yang sudah expired tidak diberikan, tetapi diganti dengan yang masa berlakunya masih panjang,” tegasnya.
Werimon menyebutkan bahwa intensifikasi pengawasan tahun ini menunjukkan tren positif. Jumlah temuan turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun jumlah kabupaten yang diawasi meningkat.
“Tahun lalu, nilai temuan pangan kedaluwarsa dan pangan tanpa izin edar mencapai Rp123 juta untuk Provinsi Papua Barat. Tahun ini, hingga tahap ketiga, kami hanya menemukan sekitar Rp1 juta lebih,” ungkapnya.
Adapun jumlah produk kedaluwarsa yang ditemukan hingga tahap ketiga mencapai 339 item dari tiga kabupaten, yakni Manokwari, Kaimana, dan Fakfak. Pada pekan ini, pengawasan juga dilakukan di Manokwari dan Manokwari Selatan.
Peningkatan jangkauan pengawasan tahun ini menjadi salah satu capaian BPOM Manokwari. Jika tahun lalu pengawasan hanya mencakup tiga kabupaten, tahun ini bertambah menjadi empat kabupaten.
“Tahun ini lokus pengawasan meningkat menjadi empat kabupaten, sementara tahun lalu hanya tiga. Tahun depan kami berharap dapat menjangkau seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Papua Barat dalam rangka pengawasan Nataru,” tutup Werimon.
Penurunan temuan tahun ini dipengaruhi oleh pengawasan rutin setiap bulan serta intensifikasi yang dilakukan menjelang Nataru. BPOM memahami bahwa arus masuk barang selalu meningkat pada momen tersebut sehingga pengawasan harus dilakukan lebih ketat.
“Sebelum turun ke lapangan hari ini, kami sudah melakukan pengawasan di sejumlah gudang distributor. Dan ini dilakukan sejak tahap pertama di akhir November,” tuturnya.
Selain pengawasan, BPOM terus melakukan komunikasi dan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai saluran, termasuk media massa. Dukungan jurnalis disebut sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan.
“Kami selalu menyampaikan hasil pengawasan secara transparan agar masyarakat mengetahui dan semakin peduli,” kata Werimon.
Werimon memastikan BPOM Manokwari akan terus memperkuat pengawasan serta edukasi demi memastikan keamanan pangan bagi masyarakat Papua Barat, terutama pada momen dengan tingkat konsumsi tinggi seperti Natal dan Tahun Baru.
PSR-CP











