MANOKWARI, cahayapapua.id- Pemerintah Provinsi Papua Barat menegaskan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-171 sebagai momentum strategis memperkuat toleransi, kerukunan, kebersamaan, serta persatuan dan kesatuan di Tanah Papua, khususnya Papua Barat.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, saat memberikan sambutan pada pawai tamborin kolosal dan Kebaktian dan Kebangunan Rohani (KKR) yang dipusatkan di Ruang Terbuka Publik Borarsi, Manokwari, Rabu (4/2/2026).
Menurut Gubernur, peringatan HUT Pekabaran Injil bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi menjadi pengingat bersama bagi seluruh masyarakat Papua Barat untuk terus menjaga hidup rukun dan damai di tengah keberagaman.
“Melalui momentum HUT Pekabaran Injil ke-171 ini, mari kita terus menjaga toleransi, kerukunan, kebersamaan, persatuan, dan kesatuan Indonesia. Tanah Papua, Papua Barat, dan Manokwari adalah rumah kita bersama yang harus kita jaga,” ujar Dominggus.
Ia menegaskan, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab dan komitmen bersama untuk hidup berdampingan secara damai, tanpa mempersoalkan perbedaan suku, agama, maupun adat budaya.
Dominggus juga mengingatkan bahwa peringatan HUT PI merupakan bagian dari sejarah besar masuknya Injil di Tanah Papua, yang dimulai dari Pulau Mansinam, Manokwari, pada 5 Februari 1855, melalui dua misionaris, Otto dan Geisler.
“Kedatangan Injil menjadi titik awal peradaban baru di Tanah Papua. Tanah ini telah menerima berkat Tuhan dan dipanggil untuk menjadi berkat bagi semua orang,” ungkapnya.
Menurutnya, Pekabaran Injil tidak hanya membawa ajaran iman, tetapi juga turut mendorong perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Papua.
“Injil membawa terang dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan membentuk peradaban yang memanusiakan orang Papua,” katanya.
Gubernur menilai, pawai dan tarian tamborin yang ditampilkan dalam rangkaian HUT PI memiliki makna spiritual yang mendalam, jauh melampaui sekadar pertunjukan seni.
“Kegiatan pawai hari ini bukan sekadar atraksi. Setiap denting tamborin adalah simbol pujian dan ucapan syukur atas transformasi besar yang terjadi di Tanah Papua,” tegas Dominggus.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme para penari tamborin serta keterlibatan umat dari berbagai denominasi gereja, yang menurutnya menjadi bukti bahwa semangat Injil masih hidup dan terus menyala di tengah masyarakat Papua Barat.
“Keberagaman denominasi yang terlibat hari ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk menjaga Papua Barat sebagai tanah yang aman, damai, dan penuh toleransi,” tuturnya.
Dominggus juga mengajak seluruh umat untuk menjadikan nilai-nilai Injil sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara, dengan mengedepankan kasih, kejujuran, dan perdamaian.
Selain pembangunan fisik dan infrastruktur, Gubernur menegaskan pentingnya pembangunan spiritual sebagai penyeimbang dalam pembangunan daerah.
“Pembangunan fisik harus diiringi dengan pembangunan spiritual. Tanpa itu, pembangunan bisa kehilangan makna dan tidak membawa kebaikan yang sejati bagi masyarakat,” pungkasnya.
PSR-CP














