MANOKWARI, cahayapapua.id- DPRK Manokwari menggelar rapat dengar pendapat (RDP), Selasa (20/1/2026), menyusul temuan roti berjamur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat viral di media sosial.
Rapat tersebut dipimpin Wakil Ketua II DPRK Manokwari, Johani Brian Makatita, dan menghadirkan Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Papua Barat, mitra penyedia, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ahli gizi, serta perwakilan sekolah.
Johani Makatita mengatakan RDP digelar untuk mendengar klarifikasi atas aduan masyarakat terkait insiden tersebut. Ia menegaskan sekolah hanya sebagai penerima manfaat program dan tidak bertanggung jawab atas distribusi maupun penyimpanan makanan.
“Jika distribusi terlambat hingga makanan tiba saat sekolah sudah tutup, itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyedia dan pengelola dapur,” tegasnya.
Johani juga mengingatkan bahwa program MBG menyangkut keselamatan anak-anak, termasuk di SD Inpres SP 22 Wosi yang mayoritas siswanya merupakan Orang Asli Papua (OAP).
Kepala Sekolah SD Inpres SP 22 Wosi, Elida S. Simanulang, menjelaskan bahwa roti diantar pada Selasa (13/1/2026) sekitar pukul 14.00 WIT saat siswa telah pulang sekolah. Karena tidak dapat dibagikan, makanan tersebut disimpan dan dibagikan keesokan harinya.
“Saat dibagikan kepada siswa tepat di kelas V pada Rabu (14/1/2026), sebagian roti diketahui telah berjamur. Kami juga menemukan kue lontar berjamur dan telur yang hancur, sehingga makanan tersebut diminta untuk dibuang,” katanya.
Insiden tersebut diviralkan karena keluhan yang sebelumnya disampaikan kepada pihak SPPG tidak mendapat respons. Pihak sekolah menegaskan tidak pernah berniat menyimpan makanan terlalu lama dan telah berulang kali meminta agar distribusi dilakukan sebelum siswa pulang.
Sementara itu, Kepala SPPG, Jisela, menjelaskan bahwa menu yang dirapel tersebut diterima di dapur pada Minggu (11/1/2026) dengan jumlah lebih dari 1.000 porsi. Karena jumlah yang banyak, proses pengepakan dilakukan hingga Senin (12/1/2026), dan pendistribusian dilanjutkan pada Selasa (13/1/2026).
Ia menyebutkan menu MBG terdiri dari menu basah dan menu kering. Distribusi menu kering untuk TK dan SD dilakukan pada Selasa, namun mengalami keterlambatan akibat keterbatasan kendaraan operasional.
“Kami hanya memiliki dua kendaraan, satu di antaranya rusak sehingga yang beroperasi hanya satu. Kesalahan pendistribusian ke SD Inpres SP 22 Wosi merupakan tanggung jawab kami karena keterbatasan kendaraan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Regional BGN Papua Barat, Erika Vionita Werinusa, menambahkan bahwa Kabupaten Manokwari memiliki 53.127 penerima manfaat MBG yang dilayani oleh 22 SPPG. Penerima manfaat tersebut terbagi dalam dua kelompok, yakni peserta didik TK hingga SMA serta kelompok 3B yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Ia menjelaskan menu kering bermasalah tersebut berasal dari SPPG Taman Ria dan merupakan menu rapelan dari Desember 2025. Pada Desember, peserta didik telah libur sekolah, sementara penyelenggara tetap harus melaksanakan program, sehingga menu tersebut dirapel dan didistribusikan pada Januari.
“Mengetahui kejadian tersebut, kami langsung menarik roti dari sekolah sebanyak 740 bungkus dan ditemukan 20 roti yang bercampur. Sementara laporan pihak sekolah menyebutkan ada 40 roti berjamur,” jelasnya.
Erika mengatakan, saat inspeksi pada Minggu (11/1/2026), roti tersebut berada di dapur MBG dalam kondisi segar dengan tanggal kedaluwarsa hingga Jumat (16/1/2026). Roti tersebut dipesan dari UMKM lokal di Manokwari.
Ia mengakui adanya kesalahan serius, termasuk penggunaan stok lama dari Desember yang baru didistribusikan pada Januari. Kesalahan tersebut telah dilaporkan kepada pimpinan dan mendapat teguran keras.
“Sebagai tindak lanjut, dapur terkait diberi sanksi dan ditutup sementara serta tidak lagi diizinkan beroperasi,” pungkasnya.
PSR-CP










