MANOKWARI, cahayapapua.id- Universitas Papua (Unipa) kembali mencatat sejarah akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. Hugo Warami sebagai Guru Besar bidang linguistik, antropologi, dan linguistik forensik, Rabu (14/1/2026)
Pengukuhan ini tidak hanya menjadi capaian personal, tetapi juga simbol kemajuan pendidikan tinggi dan penguatan identitas budaya Orang Asli Papua.
Sekretaris Senat Unipa yang juga Wakil Rektor I Unipa, Dr. Jonni Marwa, mengatakan pengukuhan guru besar merupakan puncak dari proses panjang yang ditempuh seorang akademisi melalui dedikasi, disiplin, dan integritas keilmuan.
“Gelar guru besar bukan sekadar jabatan akademik, melainkan amanah keilmuan yang diperoleh melalui proses penilaian panjang dan ketat atas karya, pengabdian, serta konsistensi seorang dosen,” ujar Jonni.
Ia menjelaskan, pengukuhan Prof. Hugo Warami memiliki arti penting bagi Unipa, khususnya Fakultas Sastra dan Budaya yang untuk pertama kalinya memiliki seorang guru besar. Selama ini, guru besar di Unipa lebih banyak berasal dari fakultas Kehutanan, Pertanian, Peternakan, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Perikanan dan Kelautan.
Selain itu, pengukuhan ini juga menjadi catatan historis karena Prof. Hugo Warami saat ini menjabat sebagai Rektor Unipa sekaligus Ketua Senat Unipa. Ia juga tercatat sebagai Guru Besar Orang Asli Papua (OAP) kelima di Unipa.
“Ini adalah pencapaian yang tidak hanya membanggakan institusi, tetapi juga masyarakat Papua secara keseluruhan,” katanya.
Jonni menambahkan, Surat Keputusan Guru Besar Prof. Hugo Warami diterbitkan pada Oktober 2025, bertepatan dengan peringatan satu abad pendidikan di Tanah Papua. Momentum tersebut dinilai memiliki nilai simbolik yang kuat bagi perjalanan pendidikan tinggi di Papua.
Hingga saat ini, Unipa telah memiliki 26 Guru Besar yang tersebar di berbagai bidang keilmuan, di antaranya Kelautan dan Perikanan, Pertanian, Kehutanan, Teknik, Peternakan, Teknologi Pertanian, serta Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
“Dari jumlah tersebut, tiga adalah perempuan dan lima merupakan Orang Asli Papua. Masih ada dua dosen perempuan yang saat ini sedang berproses menuju Guru Besar,” ujarnya.
Menurut Jonni, keilmuan linguistik, antropologi, dan linguistik forensik sangat relevan dengan konteks Papua yang memiliki ratusan bahasa daerah dan kekayaan budaya yang tinggi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium penyimpan pengetahuan lokal dan identitas masyarakat adat.
Kajian linguistik dan antropologi berperan penting dalam upaya pendokumentasian dan pelestarian budaya Papua, sementara linguistik forensik berkontribusi dalam mendukung penegakan hukum melalui analisis bahasa dalam berbagai konteks hukum dan sosial.
“Pendekatan ini penting untuk membangun keadilan dan pemahaman lintas budaya di Papua,” jelasnya.
Pengukuhan Prof. Hugo Warami juga diharapkan memperkuat peran Unipa sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berpijak pada realitas lokal namun mampu menjawab tantangan global.
Jonni berharap, capaian ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua bahwa pendidikan tinggi adalah jalan untuk membangun diri, masyarakat, dan masa depan daerah.
“Ilmu pengetahuan harus menjadi alat pembebasan dan pengabdian bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menilai kehadiran seorang guru besar memiliki makna strategis bagi pembangunan sumber daya manusia Papua Barat.
Ia berharap Prof. Hugo Warami dapat berkontribusi dalam pelestarian bahasa daerah serta memperkuat identitas budaya Papua melalui riset dan pengabdian akademik.
“Ini menjadi motivasi bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas pendidikan di Papua Barat,” kata Dominggus.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus bersinergi membangun pendidikan yang berkualitas demi melahirkan sumber daya manusia Papua yang unggul dan berdaya saing.
PSR-CP










