SDN 6 Sowi Masih Gunakan Bangunan Berumur 40 Tahun

MANOKWARI, cahayapapua.id—Menyandang status sekolah pemerintah dan berada di tengah kota. Proses belajar mengajar di SD Negeri 06 ini, tak luput dari masalah klasik dunia pendidikan.

Masalah itu meliputi sarana dan prasarana hingga tenaga pengajar. Bahkan beberapa bangunan sekolah  sudah berusia 40 tahun dan dengan kondisi yang kurang layak masih tetap difungsikan sebagai ruang belajar.

Kepala SDN 06 Sowi Jounior Laupatty. Foto : Hafsah/CP

“Ada 4 ruang kelas yang dibangun saat sekolah ini masih berstatus Inpres hingga saat ini masih difungsikan. Dulunya bernama SD Inpres 07 Sowi. Usia bangunannya sudah mencapai 40 tahun sebenarnya sudah tidak dapat dipakai karena memang bisa dikatakan sudah tidak layak,” ujar Kepala SDN 6 Sowi Jounior Laupatty.

Penggunaan bangunan sekolah lama tersebut menjadi solusi, untuk menjawab kebutuhan ruang belajar. Mengingat di sekolah itu menampung lebih dari 500 peserta didik mulai dari kelas 1-6. Tiap kelas terdiri atas 2-3 kelompok belajar (pojkar)

”Jumlah siswa yang banyak maka kami pihak sekolah tetap mengunakan ruangan tersebut. Saat ini hanya ada 10 ruang kelas, satu ruang terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang guru karena tidak ada ruang,” jelas Laupatty.

Selain memfungsikan ruang kelas lama, pihak sekolah juga membagi jadwal belajar menjadi dua sift, yakni pagi dan siang. Untuk, murid kelas 4 dan 6 mendapat giliran masuk siang. Belum lagi setiap kelas jumlah muridnya mencapai 40.

“Padahal itu sudah dibagi menjadi 3 kelas. Jumlah itu sebenarnya tidak ideal, karena terlalu banyak kalau sesuai kurikulum itu hanya 20 siswa saja. Namun mau bagaimana lagi saat ini murid yang ada s berjumlah 500 lebih,” tuturnya.

Laupatty mengaku menjabat sebagai kelapa sekolah sejak 2018, saat itu jumlah murid berkisar 180 an. Namun, jumlah murid dari tahun ke tahun terus meningkat seiring animo orang tua memasukkan anaknya ke sekolah negeri.

Persoalan tenaga pengajar juga diakui Laupatty. Saat ini, SDN 06 Sowi memiliki guru ASN 7 orang, P3K 11, dan guru honor empat orang sehingga ada guru yang harus mengajar dengan merangkap menjadi guru mata pelajaran agama.

“Pihak sekolah juga telah membangun 1 unit WC melalui dana bos. Kalau murid banyak seperti ini tidak mungkin hanya ada satu. Harusnya juga kami dapat tambahan ruang belajar tahun lalu melalui alokasi DAK. Tidak tahu sampai sekarang tidak ada,” tutupnya.

Salah seorang wali murid, Orgenes Wonggor mengaku prihatin dengan kondisi sekolah yang berada di tengah kota itu. Ia menegaskan, harusnya kondisi itu tidak terjadi sebab alokasi dana pendidikan cukup besar.

“Dana pendidikan cukup besar, ada yang bersumber dari Dana Otsus, APBD, APBN, maupun dana lain yang menunjang sektor pendidikan di Tanah Papua. Kalau sekolah yang ada di tengah kota sudah seperti ini, maka tidak heran sekolah yang ada di daerah dipinggiran dan pendalaman jauh lebih memprihatinkan,” tukasnya.

Wonggor yang juga Ketua DPR Papua Barat ini, berharap pemerintah Kabupaten Manokwari melihat persoalan pendidikan khususnya di SDN 06 Sowi terkait kebutuhan ruang belajar dan fasilitas pendukung seperti rumah guru yang sudah tidak layak juga.

“Kalau bisa programkan tambahan ruang belajar dan rumah guru di tahun depan. Pendidikan ini untuk kemajuan bangsa maka harus diprioritaskan,” pungkasnya. (BMB-CP)