MANOKWARI, cahayapapua.id- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat terjadinya inflasi sebesar 1,24 persen secara bulanan (month-to-month) dan 0,96 persen secara tahunan (year-on-year) pada Juli 2025.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala BPS Papua Barat, Merry, dalam pemaparan rilis resmi statistik bulanan yang dilaksanakan secara online pada Jumat (1/8/2025).
“Inflasi di bulan Juli ini terutama didorong oleh naiknya harga komoditas pangan seperti tomat, ikan cakalang, dan bawang merah. Ini menunjukkan adanya tekanan harga dari sisi bahan makanan segar,” ujar Merry.
Ia menambahkan, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi m-to-m di Papua Barat dengan andil sebesar 1,37 persen. Sementara di wilayah Papua Barat Daya, andil inflasi kelompok ini tercatat sebesar 0,84 persen.
“Selain komoditas pangan, kami juga melihat adanya andil dari komoditas cabai rawit yang secara konsisten memberi pengaruh terhadap pergerakan inflasi, baik bulanan maupun tahunan,” jelasnya.
Secara tahunan, kelompok Pendidikan menjadi penyumbang terbesar inflasi y-on-y di Papua Barat dengan andil 0,28 persen. Kenaikan ini utamanya dipicu oleh meningkatnya biaya sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga pendidikan tinggi.
Sedangkan di Papua Barat Daya, inflasi y-on-y sebesar 0,45 persen juga masih didominasi oleh kelompok makanan, dengan komoditas utama seperti beras, cabai rawit, sigaret kretek mesin, dan tomat.
“Momentum tahun ajaran baru juga turut berpengaruh terhadap inflasi dari sisi pendidikan, sedangkan distribusi pangan dan siklus panen masih memengaruhi harga-harga bahan pokok,” tutur Merry menutup keterangannya.
BPS mencatat bahwa kondisi inflasi di wilayah Papua Barat masih terkendali namun perlu diwaspadai, khususnya pada sektor pangan yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga musiman dan pasokan pasar.
PSR-CP
