UNIPA Identifikasi 10 Destinasi Ekowisata Andalan di Pegunungan Arfak

MANOKWARI, cahayapapua.id– Universitas Papua (UNIPA) berhasil mengidentifikasi 10 lokus destinasi ekowisata andalan Kabupaten pegunungan Arfak, Papua Barat. Guna penyusunan dokumen pemetaan, UNIPA telah menjalin kerja sama dengan Pemprov Papua Barat.

Ketua tim Fakultas Kehutanan UNIPA, Prof Dr Ir Sepus Fatem, mengatakan seiring dengan platform pembangunan berkelanjutan, maka sektor-sektor hijau berupa jasa lingkungan menjadi fokus dalam rangka percepatan pembangunan di Provinsi Papua Barat.

“Apa mlagi ketika terjadi pemekaran Provinsi Papua Barat Daya, maka diikuti pula dengan segregasi daerah bawahan seperti Kabupaten Raja Ampat, Tambrauw, Sorong Selatan, Maybrat. Maka konsekuensi bagi provinsi induk yakni menggali potensi dan mendorong pemanfaatan jasa lingkungan lain, salah satunya sektor pariwisata di kabupaten yang masih menjadi daerah bawahanya,” jelas Prof Fatem di sela kegiatan FGD dan pemantapan dan finalisasi dokumen Indikasi Program dan Kegiatan Pengembangan Pariwisata Pegunungan Arfak di Aula Dekanat Fahutan UNIPA.

Disebutkan Prof Sepus, kalau Raja Ampat, Tambrauw, Sorong Selatan, Maybrat sudah terpisah maka otonomatis pendapatan asli daerah (PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata untuk Papua Barat pun pasti hilang. Sehingga perlu penataan dan kajian untuk daerah lainnya.

Profesor Fatem, juga menjelaskan tim melakukan kajian di Pegunungan Arfak, diawali studi pendahuluan (rapid asesment study) pada bulan September. Lalu dilakukan seminar pendahuluan tanggal 13 November 2023 di Aula Kantor Bupati Pegunungan Arfak di Anggi.

Setelah itu, dilanjutkan pengumpulan data, analisis dan desain tapak, hingga FGD penyusunan strategi pengembangan ekowisata Pegunungan Arfak.

“Hasil akhir kajian pun dilakukan seminar dan FGD di Kantor Bupati Pegunungan Arfak tanggal l8 Desember 2023 lalu. Tim kajian UNIPA berjumlah 12 orang, berdasarkan bidang ilmu dan kepakaran yakni tim ahli pemetaan dan desain tapak, tim kajian biologi vegetasi dan satwa liar, tim kajian sosial ekonomi dan budaya , tim analisis kebijakan dan tim sekretariat,“ ujarnya.

Temuan Tim Fahutan UNIPA di lapangan sangat menarik. Di mana dipetakan dan teridentifikasi 10 spot lokasi ekowisata potensial andalan yang perlu dikembangkan untuk menjawab kebutuhan industri pariwisata alam, khususnya Ekowisata di Pegunungan Arfak.

Tim UNIPA menyebutnya lokasi ekowisata potensial andalan tersebut memiliki nilai jual yang unik dan khas dibandingkan dengan tempat lainnya di Papua.

Adapun spot ekowisata potensial andalan yakni:

• Lokasi Ekowisata Pengamatan Burung, Agrowisata Kopi, dan Taman Bunga Kampung Udohotma (Ekowisata Terpadu) Distrik Sururei berada di koordinat 133°54’21.648”E 1°24’1.367”S pada ketinggian 2149 Mdpl ;
• Lokasi Ekowisata Pengamatan Burung pengamatan burung Cenderewasih (D. Magnificus) dan Panorama Alam Kampung Metiede, Distrik Miyambouw berada pada koordinat 133°52’18.312”E 1°7’47.202”S pada ketinggian 1600 Mdpl;
• Lokasi Ekowisata Pengamatan Burung pintar Namdur (Amblyornis inornatus) Kampung Hungku, Distrik Anggi, pada koordinat133°53’11.681”E 1°19’36.6”S berada di ketinggian 2114 Mdpl.
• Usulan Tapak Konservasi Insitu species tumbuhan unik Rhododenron sp (mawar Papua) terletak di pinggir sebelah kiri jalan poros Minyambouw-Anggi dan memiliki luas kurang lebih 16 ha , pada koordinat 133°52’51.537”E 1°12’16.767”S di ketinggian 2254Mdpl.
• Panorama puncak ullong, rumah kaki seribu puncak ullong, Distrik Hink berada di 133°54’45.528”E 1°23’4.604”S dan ketinggian 2405 Mdpl
• Panorama dan Spot Foto, Air Terjun Memti/Sisrang, Distrik Anggi Gida, pada koordinat 134°0’29.811”E 1°21’4.783”S di ketinggian 1645 m dpl
• Panorama Puncak Kobrey dan Danau Anggi, Distrik Anggi dan Sururey di 133°54’45.528”E 1°23’4.604”S dan ketinggian 2405 m dpl.
• Panorama Alam Danau Anggi Gida, Distrik Anggi Gida pada koordinat 133°56’9.812”E 1°24’16.714”S dan ketinggian 1985 Mdpl
• Wisata Bunga Flower Garden, koordinat 133°53’13.727”E 1°19’29.111”S dan ketinggian 2041 Mdpl
• Panorama Alam dan Spot Foto Kampung Taige pada koordinat 133°52’32.345”E 1°20’27.883”S dan ketinggian 2040 M dpl

Menurut Prof Fatem, jika mereviuw dokumen RTRW Kabupaten Pegunungan Arfak, akan terlihat pola ruang Pegunungan Arfak ditetapkan sebagai kawasan strategis geopark, sedangkan fungsi hutan sekitar 277.335 ha (84,07 %) dari total luas Kabupaten merupakan kawasan lindung; Indeks bahaya tanah longsor sangat tinggi (94 %), 80% wilayah berada pada morfologi pegunungan tinggi dan 61% kemiringan lahan diatas 40%.

“Dengan merefers pada data di atas, maka pilihan akomodatif yang sangat bijak untuk kabupaten Pegunungan Arfak yakni Pariwisata sebagai leading sektor daerah yang terintegrasi dengan pertanian semi modern,” Papar Prof Fatem.

“Apalagi ekowisata Pegunungan Arfak sangat unik dan khas karena merupakan perwakilan ekosistem terestrial di kawasan kepala burung pulau Papua yang kaya akan keanekaragamn hayati; terdapat ekosistem danau di ketinggian lebih dari 1700 m di atas permukaan laut,“ tuturnya

Prof Fatem mengatakan bahwa jika membuat perbandingan, di Papua hanya Danau Habema di Wamena, Danau Paniai dan Danau Anggi yang berada di ketinggian lebih dari 1500 m dpl, di tempat lain tidak ada.

“Ini bukti karya Tuhan yang perlu dikelola dengan prinsip berkelanjutan, adil dan bermanfaat,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa, karena berada di zona ketinggian maka kelembaban dan suhu dinginnya tinggi. Karena topografi wilayah pegunungan bahkan sering disebut kabupaten kulkas.

“Artinya bahwa keadaan suhu demikian memberikan manfaat ekologi bagi pertanian masyarakat. Produksi jenis sayur dan buah dataran tinggi (kentang, wortel, sawi dan markisa, nenas dan strawbery) maupun keragaman jenis bunga cukup melimpah. Hal ini mendorong konsep Agroekowisata sebagaimana arahan tim UNIPA yakni untuk Destinasi Spot Udohotma dan Kebun Bunga,“ katanya.

Dekan Fakultas Kehutanan Unipa, Dr Jonni Marwa menyambut baik kerja sama kajian ekowisata Pegunungan Arfak. Menurutnya, Fahutan UNIPA sangat terbuka dan siap bekerja sama dalam rangka membantu pemerintah daerah di Tanah Papua dalam menyusun dokumen ataupun kajian bidang SDA dan Kehutanan, penyusunan perencanaan maupun pemanfaatannya. Termasuk sektor Pariwisata Pegunungan Arfak.

“Fahutan Unipa berterima kasih atas kepercayaan yg di berikan oleh Pemda Papua Barat dalam kegiatan yang melibatkan para ahli dari Fakultas kehutanan Unipa,” papar Dr Joni Marwa.

Ia mengemukakan, Pegunungan Arfak memang sangat sensi dan memiliki perbedaan ekosistem dan budaya yang berbeda jauh dengan wilayah etnik lain di Papua Barat. Sebut saja jenis burung cantik kelompok cenderawasih maupun kelompok burung pintar/bower bird, jenis mamalia primitif Landak Moncong panjang, Katak Arfak maupun Kanguru pohon Arfak hingga corak kehidupan masyarakat Arfak.

Kawasan Pegunungan Arfak merupakan habitat dari kurang lebih 110 spesies mamalia dan 320 spesies aves. Di antara ratusan spesies burung, salah satu famili aves yang sudah menjadi perhatian dunia adalah anggota famili Paradisaeidae, yakni cenderawasih.

“Kawasan Pegunungan Arfak merupakan habitat empat spesies cenderawasih endemic, yaitu Parotia Arfak (Parotia sefilata), Vogelkop Superb-bird-ofparadise (Lophorina niedda), Paradigalla Ekor Panjang (Paradigalla carunculata), dan Astrapia Arfak (Astrapia nigra). Vogelkop Superb Bird-of-Paradise tergolong “spesies muda” karena baru ditemukan pada 2016,” pungkasnya.

PUTRI