RTP Borarsi Masuki Tahap Akhir Pembangunan, Siap Dukung Perayaan HUT PI 2026

MANOKWARI, cahayapapua.id- Pemerintah Kabupaten Manokwari memastikan pembangunan Ruang Terbuka Publik (RTP) Borarsi telah memasuki tahap akhir dan secara fisik siap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Sejumlah fasilitas utama, termasuk lapangan dan sistem pencahayaan kawasan, telah selesai dan berfungsi dengan baik.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manokwari, Immanuel Pangaribuan, mengatakan secara teknis RTP Borarsi sudah dapat digunakan, khususnya untuk kegiatan luar ruang.

“Dari sisi fisik, RTP Borarsi sudah siap. Pencahayaan juga sudah berfungsi dan beberapa kali masyarakat sudah melihat langsung lampu-lampu kawasan menyala pada malam hari,” ujar Immanuel kepada media di Manokwari, Rabu (28/1/2026)

Namun demikian, Immanuel menjelaskan bahwa untuk bagian dalam bangunan, khususnya fasilitas di lantai dua, masih dalam proses penyelesaian interior. Salah satu fasilitas tersebut adalah ruang auditorium yang nantinya dapat digunakan untuk berbagai kegiatan resmi.

“Untuk bagian dalam, terutama auditorium di lantai dua, saat ini masih pengerjaan interior. Kapasitasnya sekitar 700 orang dan ditargetkan bisa selesai serta diresmikan pada bulan Februari,” jelasnya.

Seiring dengan tahapan pembangunan yang telah berjalan, RTP Borarsi mulai dimanfaatkan untuk kegiatan berskala besar. Salah satunya adalah rencana penggunaan kawasan tersebut sebagai lokasi utama perayaan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) Tahun 2026.

Menurut Immanuel, panitia HUT PI telah mengajukan penyewaan lapangan RTP Borarsi mulai 1 Februari hingga Februari 2026.

“Karena secara fisik sudah siap, kami memperbolehkan pemanfaatan lapangan RTP Borarsi untuk perayaan HUT PI 2026. Ini juga menjadi pemanfaatan awal fasilitas yang sudah dibangun,” katanya.

Dalam rangkaian HUT PI 2026, akan digelar pawai serta doa dan tari Tamborin kolosal yang melibatkan sekitar 2.000 penari. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di kawasan RTP Borarsi dan ditargetkan memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

“Kegiatannya berupa tarian kolosal dengan melibatkan kurang lebih 2.000 penari Tamborin. Pemerintah daerah tentu mendukung dan berharap kegiatan ini dapat berjalan sukses,” tutur Immanuel.

Selain untuk kegiatan perayaan, Pemkab Manokwari juga menyiapkan konsep pengelolaan RTP Borarsi secara berkelanjutan. Pengelolaan akan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga atau vendor untuk fasilitas pendukung seperti pusat kebugaran dan kafe.

“Kami sedang mencari vendor untuk pengelolaan fasilitas, seperti gym dan kafe. Harapannya ini bisa menghidupkan kawasan sekaligus mendatangkan PAD,” ungkapnya.

Pemerintah juga akan menerapkan sistem keanggotaan bagi masyarakat yang mengakses kawasan RTP Borarsi. Sistem retribusi akan dilakukan secara digital menggunakan e-money.

“Ke depan, akses akan menggunakan sistem member dan retribusi berbasis digital. Ini untuk ketertiban dan mencegah kebocoran, sekaligus mendukung biaya operasional dan pemeliharaan,” tambah Immanuel.

Ia mengakui, operasional RTP Borarsi membutuhkan anggaran yang cukup besar, terutama untuk kebutuhan listrik dan pemeliharaan. Karena itu, partisipasi masyarakat juga diharapkan dalam menjaga kebersihan dan fasilitas yang ada.

“Pemeliharaan butuh biaya besar, terutama listrikRT. Karena itu, kami berharap ada partisipasi masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat fasilitas ini,” pungkasnya.

Ke depan, RTP Borarsi akan dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang saat ini telah memasuki tahap finalisasi organisasi dan tata laksana. UPTD tersebut nantinya berada di bawah koordinasi Dinas Pariwisata dan dikembangkan sebagai Zona Kreatif Borarsi.

“Zona kreatif ini kami siapkan sebagai ruang berkumpul dan berkreasi bagi masyarakat, baik seni, budaya, maupun pemberdayaan ekonomi kreatif,” tutup Immanuel.

 

PSR-CP